Sanggar Tari Jaipong Lestarikan Budaya Sunda

21:44 | 17 Apr, 2012 | Rubrik: Seni Budaya | Penulis:

Sanggar Tari Jaipongan GGM

Sanggar Tari Jaipongan GGM

Berbagai upaya dilakukan oleh para pelaku seni dalam upaya melestarikan seni budaya Sunda. Upaya-upaya itu dilakukan mengingat era globalisasi meluncurkan seni budaya asing yang “ditelan” mentah-mentah oleh generasi muda. Memang, tidak semua generasi muda “menelan” mentah-mentah budaya impor itu.

Namun, setidaknya para pelaku seni budaya membuat benteng budaya dengan cara masing-masing. Tetapi, banyak di antaranya yang berusaha dengan mendirikan sanggar tari. Sanggar tari Kandaga misalnya yang dikelola Yetty Mamat berusaha membentengi seni budaya Sunda dengan pelatihan tari Jaipongan.

Tari jaipongan hasil ciptaan seniman beken Drs. Gugum Gumbira adalah produk unggulan sanggar tari Kandaga yang sudah berdiri sejak tahun 1975 yang bermarkas di gedung Yulius Usman dan kemudian dipindahkan tahun 1979 ke gedung Gelanggang Generasi Muda hingga sekarang.

Yetty Mamat sendiri mengemukakan sanggarnya ini dipindahkan ke GGM karena Walikota Bandung saat itu, R. Otje Djundjunan menghendaki seni tradisi itu tidak pudar apalagi punah. Karena itu, hingga saat ini pun sanggar Kandaga tetap bermarkas di GGM dengan pelindungnya ibu Otje.

“Alhamdulillah, ujar Yetty Mamat yang masih tampak geulis dan segar ini, sanggar Kandaga tetap eksis dalam mempertahankan seni tradisi. Karena kami terus melestarikan seni tari jaipong demi membendung seni budaya impor”.

Ketuk Tilu Cikal Bakal Jaipong
Yetty Mamat penari khas topeng ini, lama menjadi penari istana saat Ir. Soekarno sebagai Presiden hingga era Soeharto. Sejak tahun 1961 hingga 1992, ia selalu menjadi primadona penari istana. Karena itu, banyak negara yang telah dikunjunginya sebagai duta seni budaya Indonesia.

Menurut Yetty, negara-negara yang pernah dikunjunginya sebagai duta seni budaya nasional, negara-negara di Asia termasuk di antaranya Singapura serta Malaysia dan Afrika, Eropa, Amerika. Semua pengalaman itu telah mendorong dirinya untuk tetap melestarikan seni tari Sunda semacam jaipongan.

Ia menuturkan, seni tari jaipongan merupakan pengembangan dari seni tari Ketuk Tilu. Jadi tari Ketuk Tilu itu merupakan cikal bakal seni tari jaipongan yang dikembangkan dan dikemas oleh Drs. Gugum Gumbira. Ia dan Tatty Saleh (kini almarhumah) merupakan penari jaipongan pertama.

“Guru yang membimbing saya adalah Rd. Tjetje Soemantri, Rd. Yuyun Kusumahdinata, Rd. Yayat Kusumahdinata, Rd. Nugraha Surjadirdja dan Drs. Gugum Gumbira. Saya sendiri terus menekuni tari jaipongan ini dengan mengembangkannya kepada anak-anak murid saya sehingga yakin Jaipongan tidak akan punah”, ucapnya.

Murid-muridnya
Berbicara mengenai murid-muridnya, Yetty Mamat menuturkan bukan hanya anak-anak urang Sunda saja, melainkan juga datang dari Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali dan bahkan juga dosen-dosen asing dari Jerman, Perancis dan Australia yang mengajar di beberapa universitas negeri di Bandung, belajar dan memperdalam tari jaipongan.

Banyak muridnya yang sudah berkelana di dunia sebagai duta wisata seni seperti beberapa mahasiswa Unpad dan ITB yang sudah mahir dan benar-benar mendalaminya sehingga mereka menjadi duta seni tari jaipongan.

Yetty Mamat memang penari yang juga pengajar tari jaipongan karena cintanya terhadap seni budaya Sunda supaya tidak terjerembab tertaklukan budaya impor. Sanggar Kandaga merupakan pelestari seni tari jaipongan. (Heddy)

- Infowisata :

bjb