Cianjur Dari Jaman Prasejarah Hingga Alam Modern

09:38 | 11 Apr, 2012 | Rubrik: Jalan-Jalan | Penulis:

Situs Megalit Gunung Padang Cianjur

Situs Megalit Gunung Padang Cianjur

Menengok Jaman 4700 SM
Kali ini kunjungan ke satu kabupaten di sebelah barat Jawa Barat. Kab.Cianjur. Kabupaten ini memiliki panorama alam yang elok dan ternyata menyimpan banyak sekali objek wisata yang tak kalah menariknya dari kabupaten lain. Salah satu objek yang kami kunjungi adalah Situs Megalit. Sebuah karya peninggalan jaman batu yang berada di puncak gunung Padang.

Cerita dan kabar tentang situs Megalit di Cianjur ini cukup membuat kami penasaran untuk membuktikan keindahan sekaligus nilai dan makna dari kisah yang beredar di tengah masyarakat baru-baru ini. Dengan perjalanan sekitar 40 menit dari pusat kota Cianjur memberikan sebuah pengalaman yang tak mudah terlupakan. Seperti lokasinya yag berada di pegunungan. Perjalanan menuju tempat tersebut pun tak luput dari lekuk bumi yang sangat indah.

Sekitar 6 kilometer menuju lokasi, hamparan hijau perkebunan teh tak henti-hentinya menyejukkan pandangan. Siapa pun tergoda dan membayangkan andai dapat berguling di atas karpet alam ini. Tekstur alam pengunungan yang meliuk menyebabkan jalan yang dilalui pun begitu seksi.

Dengan infrastruktur yang cukup baik menjadikan perjalanan tak pernah membosankan. Sementara di kanan dan kiri jalan tampak tontonan alam pegunungan, hamparan perkebunan dan langit yang membiru cerah menjadi kombinasi yang sangat sempurna. Entah berapa puluh kali tangan ini memijit tombol capture pada kamera dan handphone yang dibawa.

Jaraknya terbilang jauh. Namun dengan pemandangan alam yang begitu mempesona dapat menghapus keluhan. Perjalanan 20 kilometer dari Warung Kondang merupakan jarak yang cukup jauh. Peluh pun tak berhenti mengalir. Tapi alangkah menyenangkannya saat tiba di lokasi yang dituju, yaitu situs Megalit Gunung Padang.

Sebenarnya ada satu tantangan lagi yang harus dilalui sebelum sampai tepat di kawasan situs tersebut berada. Setelah memarkir kendaraan dengan aman dan membayar tiket seribu rupiah, saatnya kaki ini mendaki sederet tangga yang terbuat dari susunan batu alam.

Karena situs berada tepat di puncak gunung, mendaki tangga ini wajib hukumnya jika penasaran anda tidak ingin terbawa ke rumah. Ada 378 anak tangga yang terbuat dari susunan batu yang cukup rapi meski tanpa menggunakan semen sebagai perekat.

Kehati-hatian pun mutlak dijaga saat menginjak tangga tersebut. Bukan tidak mungkin ada beberapa batu yang labil atau hampir terlepas dari susunannya. Tangga tersebut tampak begitu asri dan alami, tak sedikit orang berkali-kali berfoto di atasnya sambil menghela nafas atau memijit betis yang terasa mulai mengeras. Akhirnya perjuangan pun usai saat tampak dua buah batu berbentuk balok yang berdiri menyerupai pilar atau gapura.

Tak jauh dari batu tadi, seketika pemandangan pun berubah. Tampak banyak sekali batu-batu berukuran cukup besar bertumpuk dan menyebar di sekitar lokasi. Jika diperhatikan dengan seksama, semua batu di situs Megalit ini rata-rata berbentuk balok segi lima.

Ada yang tersusun menyerupai beragam bentuk, ada pula yang memiliki keunikan. Situs megalit pertama kali ditemukan tahun 1914 oleh seorang Belanda bernama Enjekroom. Namun sejak 1982 mulai dilindungi pemerintah sebagai sebuah peninggalan jaman batu yang memiliki nilai sejarah. Situsnya sendiri ramai dikunjungi sejak kedatangan Wagub Dede Yusuf pada 29 Maret 2011.

Salah seorang pengelola situs yang bernama Deni (33) mengatakan, situs Megalit ini terdiri atas lima undak atau lima teras. Setiap teras memiliki cerita dan keunikan masing-masing. Pada teras pertama atau disebut Pamuka Lawang terdapat batu gamelan yang dapat mengeluarkan bunyi seperti gamelan saat dipukul. Menurut peneliti, batu tersebut merupakan jenis batui andesit yang mengandung unsur logam.

Meningkat ke teras kedua terdapat batu dengan goresan menyerupai bentuk senjata kujang, Senjata tradisional Sunda. Sementara pada teras ketiga terdapat sebuah batu besar dengan lekukan menyerupai tapak kaki harimau. Kedua tanda tadi terbentuk oleh alam, tanpa sentuhan manusia. Keunikan berlanjut pada teras keempat. Disana terdapat sebuah batu yang disebut dengan nama batu gendong pernasiban. Konon tidak semua orang dapat mengangkat batu ini, sekalipun berbadan besar.

Sebagian masyarakat mempercayai jika batu tersebut dapat terangkat itu pertanda akan terkabulnya doa dan keinginan yang diucapkan dalam hati. Namun menurut Deni semua hanya Tuhan yang maha mengabulkan. Berlanjut ke undak kelima terdapat susunan batu menyerupai sebuah kursi singgasana raja. Susunan batu ini pun dinamakan singgasana yang di belakangnya terdapat satu susunan lain yang disebut pendaringan.

Begitu banyak cerita dari situs megalit yang beredar, baik berdasarkan ilmiah mau pun berdasarkan pemahaman mistis masyarakat. Namun yang pasti di area seluas 4000 meter persegi ini menyimpan banyak sekali nilai-nilai yang patut disyukuri.

Pemandangan yang sangat eksotik dengan segudang pesona alam tersaji dengan sangat sempurna tanpa campur tangan manusia sekarang. Jika saja memang tempat tersebut merupakan bangunan tanpa atap pada tahun 4700 sebelum masehi, kita hanya berkewajiban menjaganya tanpa berhenti bersykur atas karunia-Nya.

Tempat Rekreasi The Jhons

Tempat Rekreasi The Jhons

Petualangan Seru di The Jhon’s
Puas menengok situs bersejarah Megalit, perjalanan dilanjutkan menuju Cianjur kota. Sekira 10 menit dari Jalan Ir. H. Djuanda terdapat sebuah resor dengan keindahan yang tiada banding bernama The Jhon’s.

Inilah sebuah arena rekreasi yang menawarkan semua kebutuhan berwisata super lengkap. Resort and adventure, demikian konsep yang dirtawarkan The Jhon’s yang mulai dibuka untuk umum sejak setahun ini.

Beberapa wahana air dengan keunikannya menawarkan pengalaman bermain air yang sangat berbeda dari tempat berenang sejenis. Rasakan saja sensasi menikmati seluncuran dengan panjang sekira 15 meter dari ketinggian delapan meter. Atau keindahan palace kids untuk anak-anak yang suka bermain air dengan aneka mainan dan terapung di atas aliran air jernih.

Dengan luas 10 hektar, The Jhon’s memuaskan kami dalam serunya bermain ATV mengelilingi seluruh area. Sementara rekan-rekan kami yang lain menikmati santap siang di salah satu saung bambu yang berderet di samping kolam yang asri dengan aneka tanaman.

Petualangan tak berhenti di situ, di bagian belakang terdapat wahana outbond yang sangat sensasional. Salah satunya adalah flying fox sepanjang 150 meter. Seru dan mendebarkan. Itulah kesan yang diekspresikan dengan teriakan dari para petualang. Inilah flying fox terpanjang yang ada di Cianjur.

Sebenarnya saat ini baru 75% pembangunan yang dilakukan The Jhon’s dari total konsep yang dirancang. Toni, Assistant of Operational Manager The Jhon’s mengatakan, dalam waktu dekat seluruh pembangunan akan diselesaikan dan akan dilakukan grand opening.

Alasannya, ada salah satu gedung yang masih dalam tahap pembangunan. Gedung tersebut nantinya akan berfungsi sebagai meeting room dan front office. Ruang pertemuan nantinya dapat disewa masyarakat untuk rapat atau pertemuan dalam jumlah banyak.

Sesuai konsepnya resort, The Jhon’s menawarkan sedikitnya 30 unit villa dalam tiga jenis yaitu bambu, lombok dan permanen. Ketiga vila tersebut ditawarkan dengan harga Rp. 450.000 hingga Rp 800.000 untuk setiap malamnya.

Yang paling menarik mata ini adalah villa lombok yang dibangun kental dengan nuansa etnik. Bahan atau material yang digunakannya pun sangat dekat dengan alam seperti atap jerami yang digunakan. Kenyamanan dan keindahan tentunya menjadi hal penting yang disajikan disini.

Area yang sangat luas dan estetika yang apik melahirkan sebuah eksotisme bernilai tinggi. Ditunjang dengan beragam wahana menantang dan sangat berbeda menjadikan The Jhon’s sebagai tempat rekreasi sensasional dan terbesar di Cianjur.

Lampu Gentur

Lampu Gentur

Hanya Ada di Cianjur
Hampir kebanyakan café atau resto menyajikan produknya dengan konsep dan nuansa romantis. Berbagai cara dilakukan untuk mendapatkan kesan tersebut. Tak terkecuali dengan penataan lentera klasik di beberapa sudut ruangan. Namun tahukah anda jika lentera klasik yang terbuat dari potongan kaca dan logam kuningan itu hanya dibuat di Cianjur?

Kampung Gentur, sebuah desa di tengah hamparan pesawahan Cianjur yang terkenal sebagai sentra pembuatan lentera klasik. Beberapa rumah di kampung ini mahir membuat kerajinan berupa tudung lampu atau kap lampu dengan desain yang unik. Dari tampilannya hanya dua bahan yang digunakan untuk membuat lentera indah tersebut, yaitu potongan kaca dan logam jenis kuningan.

Namun bukan sembarangan material yang digunakan. Potongan kaca warna warni dibentuk sedemikian rupa dengan ukuran yang sesuai rancangan. Begitu pun logam atau plat kuningan yang digunakannya. Semua plat ini dibentuk dengan tingkat kesulitan tinggi dan menghasilkan bentuk-bentuk indah bernilai seni tinggi. Kedua bahan tadi lalu disusun dengan peralatan tertentu hingga tercipta sebuah lentera yang sangat menarik.

Kegiatan tersebut juga dilakukan Enang Saepudin (35) yang mendapatkan keahliannya dari sang kakek. Menurutnya pembuatan lentera kaca ini hanya ada di Cianjur. Dirinya kerap memenuhi banyalk pesanan dari Bali karena selera wisatawan luar negeri di pulau Dewata. Tak hanya Bali sebagai pasar terbaiknya, beberapa negara di Eropa, Amerika dan Timur Tengah menjadi tujuan ekspor dari lentera Gentur.

Menurutnya lentera Gentur merupakan satu-satunya di Indonesia. Jika pun ada pabrik sejenis di Jawa Tengah tentunya ada perbedaan dari desain dan bahan baku. Bahkan Enang menjelaskan disana mengikuti apa yang sudah dilakukan masyarakat Kampung Gentur.

Usaha yang dirintisnya sejak 16 tahun yang lalu merupakan amanat dari orang tuanya yang secara turun temurun mewariskan kreativitas ini. Meski pada jaman kakeknya dulu yaitu tahun 1940 kerajinan membuat lentera berupa pemanfaatan pecahan kaca bekas, kini karya seni ini memiliki nilai ekonomis. Seiring perkembangannya, hingga kini lentera Gentur menjadi ikon Kabupaten Cianjur.

Senang sekali rasanya dapat berkunjung ke Gentur dan menyaksikan langsung pembuatan karya seni nan indah. Namun sayang, selain infrastruktur seperti jalan yang yang kurang baik, tak ada tanda penunjuk arah ke kampung yang pernah dikunjungi Presiden tahun lalu ini. Banyak bertanya mungkin bisa menjadi keputusan yang sangat baik jika anda berminat mengunjungi Kampung Gentur.

Keadaan seperti ini tak hanya dikeluhkan oleh pengunjung, tetapi juga oleh para pengrajin di Kampung Gentur. Selain infrastruktur dan media informasi yang tidak memadai, dukungan pemerintah daerah masih menjadi mimpi untuk masyarakat setempat.

Terlebih ketika mereka ingat akan ucapan Presiden yang pada Oktober 2011 berkunjung ke Kampung Gentur dan berjanji untuk mengubah kondisi kampung Gentur menjadi ikon Cianjur yang lebih baik. Ah……. itu mungkin hanya gurauan atau impian. Entahlah! (Hery)

- Infowisata :

bjb