Jawa Barat Kehilangan Seniman-seniman Beken

14:10 | 8 Oct, 2011 | Rubrik: Seni Budaya | Penulis:

Darso

Darso, Seniman dan Musisi Sunda

Berat. Itulah yang terucap pada mulut masyarakat. Kenapa? Bukan karena soal ekonomi atau kebutuhan rumah tangga. Ini menyangkut pelaku dan pengelola seni. Tapi itu memang kehendak Yang Maha Kuasa. Tidak seorang pun yang mampu menolaknya. Juga tidak bisa menghindarinya. Satu per satu mereka “dipanggil” oleh Khaliknya.

Kota Bandung telah kehilangan lima seniman dan budayawan yang masing-masing memiliki karakternya sendiri. Tahun 2009, masyarakat Kota Bandung kehilangan seniwati beken Tati Saleh yang telah banyak membawa beken nama Kota Bandung, khususnya ke mancanegara. Suaranya yang khas itulah yang menyebabkan masyarakat kehilangan penembang yang bersuara khas itu. Halimpu tetapi juga melengking tinggi. Sampai saat ini belum ada yang menyainginya.

Semasa hidupnya, Tati Saleh juga pernah melanglang ke beberapa negara. Selain tampil langsung juga ia mampu melenggokkan tubuhnya yang sintal. Tak kepalang tanggung, masyarakat negara yang dikunjunginya berdecak kagum. Muhibah seni dari Jawa Barat ini mengusung nama nasional. Jadi pantas jika Tati Saleh mendapat penghargaan.

Tahun 2010, masyarakat Kota Bandung kehilangan seniman dan budayawan Nano S. Almarhum semasa hidupnya banyak mendarmabaktikan kaparigelanna untuk masyarakat. Banyak lagu-lagu Sunda di antaranya yang dikolaborasi dengan irama/nada nasional dan internasional. Kaset lagu-lagunya yang dibawakan oleh penyanyi lain, begitu laris di pasaran.

Saat Nano menjadi Kepala Taman Budaya Bandung, banyak tampil seni-seni tradisi sampai kepada seni kolaborasi. Seniman-seniman muda di Jawa Barat, apalagi yang pernah mentas di Taman Budaya merasakan Nano sebagai gurunya. Karena dari Nano sendiri banyak menimba ilmu saat mentas di Taman Budaya. Bahkan koreksi pun meluncur demi perbaikan.

Nah, tahun 2011 ini masyarakat Kota Bandung kehilangan lagi tiga seniman pujaannya. Ujian demi ujian berjalan dan membuat pilu warga kota. Mula-mula, masyarakat kehilangan H. Euis Komariah. Euis juga memiliki suara emas yang belum juga ada tandingan. Alunan lagunya banyak beredar dalam keping-keping kaset dan VCD.

Memngingat jasa-jasanya dalam pelestarian seni Sunda, ia pun pantas menerima penghargaan. Nama Kota Bandung juga selalu terangkat dengan penampilannya dengan melantunkan lagu-lagu khusus. Apakah ada pelanjutnya? Mudah-mudahan anak-anak didiknya yang pernah berguru kepada Euis mampu melanjutkannya.

Bulan September 2011, masyarakat Kota Bandung juga mencucurkan air matanya karena seniman beken Darso yang pernah berbicara dalam forum nasional, dipanggil oleh sang khalik. Darso dalam usianya yang sudah memiliki KTP seumur hidup selalu bergairah jika tampil di hadapan publiknya. Lagu-lagu yang dibawakannya selalu mengena di hati masyarakat.

Sup Yusuf, seniman lawak yang juga sudah memiliki nama nasional, apalagi sudah pernah mendapat peran di film dan sinetron, dipanggil pula oleh sang khalik sekitar sebulan setelah Darso. Semoga semua seniman yang pernah berjasa kepada masyarakat ini mendapat tempat yang layak sesuai dengan amal ibadahnya. (Heddy)

- Infowisata :

bjb