Populer oleh Darso

17:00 | 14 Jul, 2011 | Rubrik: Profil | Penulis:

Yayan Jatnika Darso, Populer oleh Darso, Musik

Yayan Jatnika, Seniman dan Musisi

Ada orang yang mengira anak Darso. Tetapi salah seorang di antara 100 orang yang mengira anak Darso, menyebutnya keponakan. Ternyata yang benar perkiraan yang seorang. “Saya memang keponakan mang Darso. Orang tua saya memang kakak mang Darso. Jadi menyebutnya mamang”, ujar Yayan Jatnika yang banyak mencipta lagu Sunda. Ia sendiri pernah membawakan lagu ciptaannya tetapi lebih populer oleh Darso.

Yayan bercerita, ia mampu mencipta lagu-lagu Sunda karena darah senimannya dari keluarganya yang umumnya termasuk seniman. Banyak ciptaannya yang kemudian populer oleh Darso. Nama mamangnya ini terus melejit dengan suaranya yang khas. Kaset atau VCD nya banyak dibeli oleh masyarakat. Masyarakat menyenangi lirik-lirik lagunya yang khas soal-soal alam. Apalagi dibawakan oleh Darso yang memiliki suara khas.

Yayan yang menyimak dari keterangan orang bahwa kaset bertajuk Curug Cinulang meledak tahun 1999. “Jika tak salah dengar, ini juga ceuk batur, kaset yang bertajuk Curug Cinulang itu yang dilantunkan oleh saya mencapai 450.000 keping. Album itu ternyata lebih dipopulerkan oleh Darso”, ujar Yayan yang selalu terbuka dalam mengemukakan keterangannya. Yayan termasuk orang yang suka blak-blakan. Tidak ada yang disembunyikan.

Saat ini ia sudah menyusun lirik lagu yang demikian liris, ditujukan khusus kepada Pak Dada Rosada, Walikota Bandung. Lirik lagu itu sudah disampaikan kepada Dada Rosada. Isinya sangat mengagumi kinerja Walikota Dada Rosada yang demikian perhatian terhadap masalah alam seperti Cikapundung dan hutan kota yang diwujudkan dengan banyaknya pepohonan semacam di Tegalega dengan hutan kotanya.

Lirik lagu yang bertajuk Bandung Bermartabat ada lima paragraph yang mengandung kahayang yang membuat lirik dan memuji perhatian Dada Rosada. Kebanyakan liriknya menyentuh soal alam Kota Bandung yang begitu asri dan selalu menjadi tujuan wisata para wisatawan. “Saya sudah sampaikan lirik lagu itu kepada pak Dada. Jadi tinggal bagaimana pak Dada saja”, ujarnya kepada Tabloid InfoWisata di kediamannya.

Tentang lagu-lagu yang dipopulerkan oleh mamangnya itu, Yayan juga bergembira. Gembira karena lagunya sudah digemari oleh masyarakat. Bukan hanya masyarakat Jawa Barat saja, malah warga DKI Jakarta dan Jawa Tengah sudah menggandrunginya. “Bekat mang Darso pula saya sejak kecil mendapat bimbingan masalah seni dan mencipta lirik lagu” ucap Yayan yang mengaku darah seninya ada pada keluarganya sejak nenek dan kakeknya masih berkiprah dalam lagu-lagi celempungan.

Mulanya, ia sendiri yang menipta lagu dan menyanyikannya. Kemudian ditawarkan kepada produser dan ternyata menerimanya. Tetapi sang produser baru member kesempatan sebuah lagu saja. Karena suaranya yang bagus dan mendayu-dayu, akhirnya produser memberikesempatan lagi. Lagunya juga pernah popular. Tetapi kemudian Darso lebih mendominasi suaranya produser melemparnya kepada Darso.

Karena suara dan hasil ciptaannya, ia pernah main satu panggung bersama Detty Kurnia dan Rita, pernyanyi kodang dengan lagu-lagu khasnya. Tetapi kebersamaan itu tidak berlangsung lama. Saya keburu banyak mencurahkan perhatian kepada penciptaan lagu. Justru mamangnya itulah yang kemudian banyak berkiprah dalam seni suara hingga sekarang.

Yayan sendiri sangat berharap ada bantuan dari pemerintah. Harapannya itu terlontar karena ia juga mendengar kabar ada dana yang tersedia di pemerintah untuk pembinaan seni budaya. Ia sendiri tidak tahu harus kemana mewujudkan harapannya itu.

“Saya ini meureun urang leuweung teu nyaho kamana nya mentana. Ada beja harus ke dinas anu atau ke Provinsi. Tapi gimana sih cara-caranya. Apa syarat-syaratnya. Saya tidak tahu. Padahal, dana bantuan untuk seninan itu memang ada. Hanya ia sendiri belum yakin berapa dana bantuan itu. Tidak tahu berapa besarnya dana bantuan untuk seniman itu. Apa utuh sebesar yang dituangkan dalam anggaran atau tidak”, ucap Yayan yang benar-benar ketidaktahuannya ini menjadi pengetahuan dan dirinya bisa menerima bantuan itu.

Yayan memang orang lugu yang berangkat popular dari seni calung dengan lagu popular dan berkembang menjadi pop Sunda. Dari pop Sunda ini berkembang lagi seni calung yang berkolaborasi dengan alat-alat seni urang luar seperti keyboard, organ, melodi, gitar dan bass. Sebelas tahun ia berkecimpung dalam seni calung.

Ia bahkan memohon kepada pemerintah yang menaungi seniman/budayawan agar seni tradisi tetap dijaga dan dipelihara seperti seni reog, kendang penca dan seni etnik di daerah yang hirup ngalanglayung, paeh teu hos. Artinya, hidup tak mau, mati pun enggan. “Mudah-mudahan saja pemerintah benar-benar memperhatikan para seniman yang kehidupannya seperti itu. (E.Riani)

- Infowisata :

bjb

3 Responses to Curug Malela Obyek Wisata Unggulan

  1. libra

    lokasi tepatnya dmn? Rute dr bdg gmn?

  2. Tapi masih banyak sampah sayangnya..

    • Sampah akan menjadi masalah jika hal ini dibiarkan berlarut-larut. Jangankan di tempat wisata, di lingkungan sekitar kita pun sering ditemukan sampah dalam volume yang berbeda-beda. Diperlukan kesadaran setiap individu untuk menanamkan pola disiplin terhadap kebersihan lingkungan, termasuk ya urusan sampah tadi. Jika hal ini terus menerus diabaikan.. lambat laun kita tak lagi menjual keindahan, melainkan tumpukan sampah. he.he.

      Thanks, to Febrian